berita.depok.go.id - Wakil Wali Kota Depok, Chandra Rahmansyah menegaskan bahwa keberadaan rumah ibadah memiliki potensi yang besar untuk menjadi pusat problem solving (penyelesaian masalah) di tengah masyarakat.
Rumah ibadah diharapkan mampu menghadirkan solusi dari persoalan sosial, ekonomi, hingga memperkuat kerukunan antarumat beragama.
“Apa gunanya banyak rumah ibadah di Depok tapi masyarakat miskinnya bertambah? Jangan agama dijadikan magnet ritualitas tapi spiritual nggak dapat, padahal di semua agama yang saya tahu kita diwajibkan untuk berbagi,” ucapnya dalam acara Halal Bihalal dan Diskusi Lintas Agama yang diselenggarakan Persatuan Intelegensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Depok di Gereja HKI Juanda, Kecamatan Sukmajaya, Sabtu (04/04/26).
Ia menyebut, tingkat kemiskinan di Kota Depok masih terbilang cukup tinggi, dimana tercatat sekitar 60 ribu penduduk masuk kategori miskin.
Hal ini sangat disayangkan, kata Chandra, mengingat banyak rumah ibadah yang berdiri di tengah masyarakat namun tidak dapat menyejahterakan umat atau jemaatnya.
“Kita harus fungsikan struktur yang ada termasuk lembaga agama untuk menjadi problem solving bagi masyarakat,” tegasnya.
Chandra juga mengajak seluruh lembaga agama untuk menjadi mitra pemerintah bersama-sama berkolaborasi mewujudkan kebahagiaan untuk warga Depok.
“Pemkot Depok bertugas melayani masyarakat, tapi kami bisa melaksanakan program kerja ketika ada kolaborasi yang baik dengan rekan-rekan tokoh lintas agama,” paparnya.
“Banyak PR kita instrumen lembaga agama ini bisa diberdayakan untuk membantu Pemkot Depok menyejahterakan masyarakat, dan membantu mewujudkan sebagaimana cita-cita bangsa negara ini sesuai sila kelima Pancasila yakni Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia,” tambahnya.
Terakhir ia mengapresiasi PIKI Kota Depok, Majelis Pekerja Harian Persatuan Gereja Indonesia Kota Depok dan Sekolah Tinggi Teologia Skriptura yang telah menginisiasi kegiatan diskusi tersebut.
“Temanya bagus diskusi tatap muka, kalau bicara diskusi yang sehat adalah bebas mengeluarkan apa yang ada di pikiran dan gagasan pengetahuan kita, sehingga diskusi bisa berjalan konstruktif,” tandasnya. (JD 05/ED 01).
