dr. Enny Ekasari, MARS Direktur RSUD Anugerah Sehat Afiat Kota Depok. (Foto: Istimewa)

Tausiah Ramadan malam ke-18, oleh: 

dr. Enny Ekasari, MARS Direktur RSUD Anugerah Sehat Afiat (ASA) Kota Depok

Kalau kita ditanya apa arti "SUNNAH" pasti jawabannya, kalau dikerjakan dapat pahala dan kalau tidak dikerjakan tidak apa-apa.

Padahal, kalau kita SALAT "SUNNAH" RAWATIB 12 RAKAAT, ALLAH menjanjikan rumah di Surga.

Rasulullah SAW bersabda: _"Jika seorang hamba Allah SWT salat 12 rakaat (sunnah) setiap hari sebelum dan sesudah salat wajib, maka Allah SWT akan membangunkannya sebuah rumah di surga"_ . (HR. Muslim)

Untuk urusan "SUNNAH" seharusnya mulai saat ini di _mindset_ kita bukan lagi "kalau dikerjakan dapat pahala, dan kalau tidak dikerjakan tidak apa-apa", tapi diganti menjadi  "kalau dikerjakan akan "DAPAT UNTUNG BESAR", dan kalau tidak dikerjakan justru akan "RUGI BESAR"

Kata-kata 'ah..., itu kan cuma "SUNNAH" adalah bisikan SETAN yang terus dihembuskan agar kita tidak melaksanakan amalan "SUNNAH" tersebut.

Terus bagaimana sunnahnya bagi kita yang bekerja sebagai pelayan publik?

Sebuah hadist Rasulullah SAW di riwayatkan  Imam Baihaqi : _“Sesungguhnya Allah senang jika salah seorang di antara kamu mengerjakan sesuatu pekerjaan yang dilakukan secara profesional”_ (HR Baihaqi)

Sebagaimana kita tahu, ASN sebagai Pelayan Publik harus memahami betul fungsi dan tugasnya dalam memberikan pelayanan publik yang profesional dan berkualitas, bukannya malah minta dilayani oleh masyarakat dengan meminta imbalan atas pelayanan yang diberikan.

Sebagai tenaga kesehatan yang bertugas dan diharapkan masyarakat untuk dapat memberikan pelayanan dengan baik, mengobati, menyembuhkan, ataupun mengurangi rasa sakit, maka hal sederhana yang dapat dan mudah dilakukan untuk memenuhi harapan masyarakat adalah dengan memberikan pelayanan prima (profesional). Contoh sederhana pelayanan prima agar konsumen merasa puas adalah bersikap ramah, bertutur sapa yang santun dan senyuman yang tulus. 

Tersenyum adalah hal yang tidak sulit, walaupun saat ini pada masa pandemi kita dituntut untuk menggunakan masker, tetapi lawan bicara kita dapat merasakan dari perkataan atau kalimat yang kita sampaikan, dari cara berkomunikasi yang baik, tatapan mata dan gerak tubuh _(body language)_ yang baik.

Selain bernilai ibadah, senyum juga dapat memupuk hubungan baik antar sesama manusia.

Selain itu, senyum juga merupakan tanda mulianya akhlak seseorang. Apalagi, akhlak yang mulia merupakan amalan baik nan istimewa dengan timbangan yang berat di sisi Allah SWT kelak. Senyum juga merupakan salah satu bukti keimanan dan ketakwaan seseorang ketika seseorang tersebut mendapatkan ujian dari Allah SWT.

Salah satu figur penebar kebaikan dan senyuman adalah Rasulullah SAW. Beliau dikenal dengan sosok yang murah senyum, selalu ceria, dan berkata baik.

Dalam hadits riwayat At-Tirmidzi disebutkan bahwa Aisyah ra. mengatakan, _"Aku tidak pernah melihat seseorang yang paling banyak senyumannya selain Rasulullah."_ (HR. At-Tirmidzi)

Senyum yang diberikan untuk saudara juga bernilai sedekah. Dalam sebuah hadits riwayat Tirmidzi sebagaimana dijelaskan oleh Salman Ayashi dalam bukunya yang berjudul Dahsyatnya Senyuman, Rasulullah SAW bersabda yang artinya:

_"Senyummu untuk saudaramu adalah sedekah. Usahamu untuk mengajak kepada kebaikan dan melarang keburukan adalah sedekah. Usahamu untuk menuntun seseorang yang tersesat menuju jalan yang lebih baik adalah sedekah. Memberikan yang kita miliki adalah sedekah. Menyingkirkan gangguan dari jalan adalah sedekah. Pandanganmu yang peduli kepada mereka yang buruk rupa adalah sedekah. Sedekah yang paling tinggi nilainya adalah nafkah yang diberikan suami kepada istrinya."_ (HR. Tirmidzi)

Membuat orang lain bahagia dengan memberikan senyuman adalah suatu kebaikan yang bernilai ibadah. Senyum merupakan jenis sedekah paling ringan yang bisa memberatkan timbangan pahala kita nanti.

Dengan tersenyum kita dapat membahagiakan orang lain, memberikan rasa empati, mengurangi kegelisahan atau kesedihan, menjadi penyembuh dan segala kebaikan dari sebuah senyuman. 

Tapi jangan senyum-senyum sendiri ya. (JD02/ED02/EUD02)

YOUR REACTION?