Kepala Satpol PP Kota Depok, Lienda Ratnanurdianny. (Foto: Diskominfo)

Oleh: *N. Lienda Ratnanurdianny, SH, MHum (Kasat Pol PP Kota Depok)*

Sepenggal cerita inspirasi antara guru dan murid tentang makna membuat sebuah garis. Pada suatu waktu seorang Guru membuat garis sepanjang 10 cm di bagian atas papan tulis, lalu dia berkata kepada murid-muridnya : "Anak-anak, coba perpendek garis ini!" Anak pertama maju kedepan, ia menghapus 2 cm dari garis itu, sekarang menjadi 8 cm. Pak Guru mempersilakan anak ke 2. Ia pun melakukan hal yang sama, sekarang garisnya tinggal 6 cm. Anak ke 3 & ke 4 pun maju kedepan, sekarang garis itu tinggal 2 cm. Terakhir, giliran anak yang nampak terlihat kalem maju kedepan, ia membuat garis yang lebih panjang, sejajar dengan garis pertama yang tinggal 2 cm itu. Sang Guru menepuk bahunya, "Kau memang bijak Nak. Untuk membuat garis itu menjadi pendek, tak perlu menghapusnya, cukup membuat garis yang lebih panjang. Maka Garis yang pertama akan menjadi lebih pendek dengan sendirinya." Ternyata kita dapat berbuat yang terbaik dengan prestasi gemilang tanpa melukai, mencela dan menjelekkan orang lain.

Cerita inspiratif ini rasanya cukup relevan jika dikaitkan dengan tugas pokok dan fungsi Sat Pol PP yang selalu menghadapi masyarakat yang begitu beragam. Dalam proses menjalankan tugas sat pol pp yang tegas, persuasif dan humanis ini, berbagai sikap pun ditemui di lapangan.  Sikap saling menjatuhkan, merasa yang paling ter segalanya kini seolah sudah berada pada titik paling kritis, karena kini telah berdampak akan pecahnya persatuan, persaudaraan dan silaturahmi antar sesama warga bangsa.sungguh merupakan ujian kesabaran. Bukankah dalam cerita guru dan anak diatas telah mengajarkan kita bahwa jika ingin lebih baik dari orang lain tidak harus melukai, menjatuhkan dan menjelekkan pihak lawan atau orang lain. Tapi lakukanlah inovasi sekreatif mungkin agar kita dapat memiliki prestasi lebih dari orang lain.

Dalam sesi satu pengajian yang pernah  dihadiri, ada pesan ustad kala itu yang patut untuk direnungi, yakni enam pesan muhasabah dari Sayyidina UMAR BIN KHATTAB. yaitu; *kesatu, bila kalian menemukan aib didalam diri seseorang, maka gali lah aib yang ada pada diri kalian terlebih dahulu, karena belum tentu aib kalian sedikit.* Maksudnya adalah jika kita ingin mencela seseorang, maka terlebih dahulu mencela diri kita. Mencela atau menjelek-jelekkan orang lain adalah perbuatan yang sangat tidak baik, kita tidak boleh mencela orang lain, karena diri kita sendiri juga masih penuh dengan kejelekan. Maka lebih baik kita melihat semua kejelekan yang ada di diri kita sendiri, karena belum tentu kejelekan orang yang kita cela lebih banyak dari kejelekan diri kita sendiri. *Kedua, bila kalian ingin memusuhi seseorang atau memusuhi sesuatu, maka musuhilah perut kalian, karena tidak ada musuh yang lebih berbahaya bagi kalian selain perut kalian sendiri.* Jika seseorang merasa sangat lapar, ia bisa melakukan apa saja demi mendapatkan makanan. Maksudnya disini kita harus bisa selalu menjaga keimanan walau dalam keadaan lapar. Maka jagalah perut kita dengan memakan makanan yang halal, dan selalu membaca doa sebelum memakan sesuatu. Pastilah Allah SWT akan senantiasa menjaga perut kita dari Kelaparan. *Ketiga, bila kalian ingin memuji, pujilah Allah SWT*, karena tidak ada sesuatu yang lebih banyak memberi kepada kalian dan lebih santun serta lembut kepada kalian selain Allah SWT. Jika kita ingin memuji, maka Allah SWT lah yang paling pantas untuk menerima semua pujian kita. Kalau kita melihat sesuatu yang luar biasa, maka pujilah Allah. Jika kita melihat sesuatu yang Ajaib atau hal luar biasa, maka Pujilah Allah atas segala kebesarannya itu. Karena Allah juga lah yang membuat semua hal yang bisa kita Puji. Kemudian yang *keempat, bila ada yang ingin kalian tinggalkan, maka tinggalkanlah kesenangan dunia, sebab bila kalian tinggalkan maka kalian akan menjadi terpuji.* Kesenangan di Dunia bisa membuat kita lupa akan adanya Kebahagiaan dan Siksa di Akhirat. Karena jika kita terus-terusan mengikuti hawa nafsu yang ada di Dunia, seperti mengejar Harta, Wanita, dan Tahta, maka kita bisa melupakan Akhirat. *Kelima, bila kalian ingin siap-siap untuk sesuatu, maka bersiaplah untuk menghadapi kematian, sebab bila kalian tidak menyiapkan bekal untuk mati, kalian akan menderita, rugi dan penuh penyesalan.* Kematian menjadi salah satu Rahasia manusia yang dipegang oleh Allah. Untuk itu, sebagai HambahNya kita selalu senantiasa di ingatkan akan Kematian. Kesenangan dunia menjadi tantangan terbesar manusia, karena dengan banyaknya kesenangan itu kita akan terlupa akan kematian. *Keenam, bila kalian ingin menuntut sesuatu, tuntutlah akhirat, karena kalian tidak akan mendapatkan akhirat kecuali dengan mencarinya.* Kita harus selalu ingat pada hari Akhir, dan mempersiapkan segala yang dibutuhkan. Carilah akhirat, karena kita tidak akan mendapat Akhirat kecuali dengan mencarinya.

Untuk membuat diri kita terpandang tak perlu mengecilkan yang lain, tak usah menjelekan yang lain, karena secara tidak langsung, membicarakan kejelekan yang lain adalah cara tak jujur untuk memuji diri sendiri. Cukup lakukan yang terbaik yang dapat kita lakukan untuk semuanya, biarkan waktu yang akan membuktikan kebaikan tersebut. Hentikan pembusukan, fitnah dan mengkerdilkan orang lain untuk mengangkat diri dan kelompok kita sendiri. Bisa jadi, hinaan, cacian dan celaan akan semakin membuat kita kuat dan kokoh, kita akan menjadi *"berlian yang takkan berkarat"* yang akan disegani oleh mereka yang menghina dan menjatuhkan kita. Jadilah berlian yang selalu dicari dan diimpikan semua orang karena pribadi yang tangguh yang memancarkan kemilau nan indah, yang walau diperebutkan namun hanya jiwa berkualitas yang mampu memilikinya. Karena mendapatkan yang terbaik itu tak mudah. Karena yang terbaik itu langka. Tetaplah ukir sejarah hidup kita dengan kilauan prestasi terbaik, bak intan permata yang tetap berkilau walau dicaci dan dihina. *Jikalau itu adalah Intan Permata{berlian} dimanapun tersimpan bahkan dalam lumpur sekalipun dia tetap berkilau menunjukkan sebagai Intan Permata.*

YOUR REACTION?