Wali Kota Depok, Mohammad Idris memimpin Rapat Koordinasi HLM TPID bersama Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat di Balai Kota, Rabu (29/09/21). (Foto: JD 01/Diskominfo).

berita.depok.go.id - Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Kota Depok bersama Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat menggelar rapat koordinasi High Level Meeting (HLM). Rapat tersebut membahas berbagai isu strategis untuk mendorong pemulihan ekonomi dan menjaga stabilitas harga melalui percepatan dan perluasan digitalisasi secara holistik.

Wali Kota Depok, Mohammad Idris menjelaskan, HLM merupakan program rutin yang dilaksanakan TPID. Melalui HLM, dibahas mengenai data-data perkembangan perekonomian di Kota Depok, dan tindaklanjut dari berbagai upaya yang akan dilakukan terkait pengendalian inflasi.

"Kami akan intervensi hal apa saja yang harus dilakukan sesuai kapasitas pemerintah daerah dan karakter perekonomian. Depok karakternya konsumen bukan produsen, tapi tidak menutup kemungkinan ada juga produsen kecil menengah, ini yang dikembangkan," jelasnya kepada berita.depok.go.id, usai Rapat Koordinasi HML bersama Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat di Balai Kota, Rabu (29/09/21).

Mohammad Idris menjelaskan, periode Januari-Agustus 2021 inflasi di Kota Depok sebesar 1,11 persen. Angka ini lebih rendah  di bawah Kota Bogor dan Kota Bandung.

"Kota Bogor inflasinya 1,12 persen, Kota Bandung 1,13 persen. Tapi Depok lebih tinggi dari Jawa Barat, DKI Jakarta, dan Nasional," jelasnya.

Sementara itu, Kepala Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Wilayah Provinsi Jawa Barat, Herawanto mengatakan, Kota Depok merupakan salah satu wilayah di Jawa Barat yang menjadi kota satelit Ibu Kota DKI Jakarta. Berdasarkan strukturnya,  perekonomian Kota Sejuta Maulid ini, sebagian besar ditopang oleh sektor manufaktur, perdagangan, dan konstruksi.

"Secara rata-rata, pangsa ekonomi Kota Depok terhadap Provinsi Jawa Barat sebesar 3,32 persen. Dari sisi inflasi, Kota Depok merupakan kota yang termasuk memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap inflasi Jawa Barat dan Nasional," katanya.

Herawanto menambahkan, pertumbuhan ekonomi Kota Depok pada tahun 2020 mengalami kontraksi sebesar -1,92 persen year on year (yoy). Nilai ini jauh di bawah tahun sebelumnya yang mencapai 6,73 persen (yoy).

Lanjutnya, kontraksi ekonomi ini disebabkan penurunan kinerja sektor ekonomi utama, yaitu perdagangan dan konstruksi. Di sisi harga pada 2020, Kota Depok mengalami inflasi sebesar 1,78 persen (yoy).

"Apresiasi Jabar secara keseluruhan termasuk Kota Depok melakukan apa yang kami sebut dynamic balance antara pendekatan kesehatan dan ekonomi secara baik. Kota Depok sudah mengendalikan inflasi dengan baik," pungkasnya. (JD 05/ED 01/EUD02)

YOUR REACTION?