Ketua PD Prokami Kota Depok, Fakhrur Razi. (Foto : Istimewa)

berita.depok.go.id – Pengurus Daerah Perhimpunan Profesional Kesehatan Muslim Indonesia (PD Prokami) Kota Depok mendukung Pemerintah Kota (Pemkot) Depok dalam menangani wabah virus Corona atau Covid-19. Organisasi profesi tersebut merekomendasikan empat hal agar  penerapan program Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) berjalan maksimal.

Ketua PD Prokami Kota Depok, Fakhrur Razi mengatakan, empat hal tersebut di antaranya peningkatan peran Puskesmas. Yaitu dengan melibatkan organisasi profesi, dalam upaya membangun kesadaran masyarakat melalui pendekatan Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) tentang dampak Covid-19.

“Peran keluarga penting untuk mendidik anak-anak dalam penerapan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan memberikan asupan gizi yang optimal. Sebab selain orang tua, lanjut usia dan penyakit penyerta, anak-anak juga rentan terpapar Covid-19,” ujarnya kepada berita.depok.go.id, baru-baru ini.

Selain itu, sambungnya, pimpinan wilayah harus berkolaborasi dalam menyiapkan rumah karantina khusus Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pengawasan (PDP), dan Orang Tanpa Gejala (OTG) dengan gejala ringan. Tempat yang disediakan minimal bisa menampung 10 orang untuk setiap keluarahan.

“Untuk ODP, PDP, dan OTG yang tidak memungkinkan melakukan karantina mandiri, bisa disiapkan tempat dalam satu area atau terpisah sesuai kemampuan tiap kelurahan,” papar Fakhrur Razi.

Dia menambahkan, pihaknya juga mengusulkan agar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kota Depok meningkatkan pemeriksaan Polymerase Chain Reaction (PCR), minimal 200 tes per hari. Hal ini dimaksudkan agar mendapatkan data kasus yang akurat, sehingga memudahkan dalam penanganannya, serta mengurangi lamanya rawat inap akibat antrian pemeriksaan yg tentu akan menekan biaya perawatan.

“Kami berharap gugus tugas juga meningkatkan kapasitas fasilitas pelayanan kesehatan. Berupa ruang isolasi, ventilator, dan ruang ICU khusus Covid-19. Semua itu untuk mengantisipasi lonjakan kasus pada puncak pandemi,” pungkasnya. (JD 05/ED 01/EUD02)

YOUR REACTION?